Categories
Uncategorized

Peneliti Indonesia Menemukan Pusat Stres Pada Otak

BNST berbentuk segitiga berukuran lima milimeter ini semula diduga sebagai tempat kendali detak jantung dan saluran cerna. Ada jaringan saraf sangat padat di BNST yang memacu naik-turunnya penghambat dan pemicu stres. Selain itu, BNST memproduksi corticotrophin releasing hormone (CRH) dan somatostatin (SOM), yang identik dengan emosi. Setelah berhasil menemukan saraf pemicu dan penghambat stres, Ikrar dan timnya mencari tahu cara mengendalikan saraf tersebut. Sebagai percobaan, mereka menggunakan tikus untuk melakukan penelitian sebagai model stres pada mamalia.

Website : kota-bunga.net

Tikus diberi beberapa perlakuan agar merasa tertekan dan kemudian stres. Ada tikus yang diberi suasana tegang, gempa, hingga musik yang memekakkan telinga. Beberapa tikus lain tak diberi rangsangan apa pun. Untuk mengetahui saat terjadi stres pada tikus, Ikrar menggunakan Channelrhodopsin-2 (ChR2), yang akan menyandi saraf tertentu. ChR2 merupakan sejenis protein yang dapat memberi hingga enam warna berbeda jika diberi cahaya tertentu. ChR2 disuntikkan melalui pembuluh darah atau langsung ke area tertentu di otak. Setelah itu, tikus diberi perlakuan transgenik. Pertama, tikus diberi perlakuan agar stres. Kemudian dikendalikan dengan memancarkan cahaya tertentu. Cahaya ini dipancarkan pada sistem saraf sensitif terhadap cahaya.

Transgenik selanjutnya adalah dengan memberi cahaya pada sel yang merangsang stres. Melalui transgenik tersebut diketahui ada sel yang terangsang dan tertekan saat diberi cahaya. Setelah memberi perlakuan, Ikrar dan tim mengukur sel saraf pada tikus. Mereka menemukan saat stres kecepatan elektrikal di daerah BNST meningkat 300-500 persen dibanding kondisi normal. Ikrar kemudian memeriksa kondisi jantung dan kondisi lain pada tikus. ”Kalau stres, area yang terdeteksi dengan ChR2 yang tinggi bisa ditekan dengan menggunakan sinar tertentu agar tidak stres lagi,” ujarnya.

Metode menghambat dan merangsang sel tertentu dengan sinar ini disebut optogenetik. Untuk memancarkan sinar tertentu, para peneliti menanamkan chip di otak. Pemasangannya tak sulit karena ukurannya sangat kecil. Chip ini berfungsi seperti sakelar. Pada kondisi normal, sel saraf pemicu dan penghambat stres berada dalam kondisi seimbang. Saat stres, kedua sel berada dalam posisi tak seimbang. ”Salah satu pasti lebih dominan,” kata Ikrar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *